DAMPAK KEBIJAKAN MONETER TERHADAP STABILITAS DAN PERTUMBUHAN EKONOMI REPUBLIK INDONESIA : Analisis Mekanisme Transmisi dan Resiliensi Makroekonomi
DOI:
https://doi.org/10.61722/jemba.v3i3.2268Keywords:
Monetary Policy, Bank Indonesia, Inflation, Economic Growth, Monetary Transmission, BI-7DRRR, Policy Mix.Abstract
Abstract. Walau demikian, temuan empiris juga menunjukkan adanya fenomena jeda waktu yang signifikan, di mana keputusan terkait kebijakan moneter membutuhkan waktu antara 12 hingga 18 bulan untuk sepenuhnya bertransisi ke sektor riil dan berpengaruh pada keputusan investasi serta konsumsi rumah tangga. Lebih lanjut, penelitian ini menekankan bahwa ketergantungan hanya pada instrumen suku bunga tidaklah cukup untuk menghadapi tekanan inflasi yang disebabkan oleh sisi penawaran. Oleh karena itu, temuan studi merekomendasikan penguatan strategi bauran kebijakan yang memadukan instrumen moneter konvensional dengan kebijakan makroprudensial yang lebih akomodatif serta pemanfaatan sistem pembayaran digital dan Central Bank Digital Currency (CBDC). Sinergi ini dianggap sangat penting untuk meningkatkan ketahanan ekonomi nasional dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global di masa mendatang serta memastikan fungsi intermediasi perbankan tetap optimal dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Nevertheless, empirical findings also indicate the presence of a significant time lag phenomenon, where decisions related to monetary policy require between 12 to 18 months to fully transition into the real sector and influence household investment and consumption decisions. Furthermore, this study emphasizes that relying solely on interest rate instruments is not sufficient to address inflationary pressures caused by the supply side. Therefore, the study's findings recommend strengthening a policy mix strategy that combines conventional monetary instruments with more accommodative macroprudential policies, as well as the utilization of digital payment systems and Central Bank Digital Currency (CBDC). This synergy is considered very important to enhance national economic resilience in facing the uncertainties of the global financial market in the future and to ensure that the banking intermediation function remains optimal in supporting inclusive economic growth.
Keywords: Monetary Policy, Bank Indonesia, Inflation, Economic Growth, Monetary Transmission, BI-7DRRR, Policy Mix.
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi secara mendalam efektivitas kebijakan moneter yang diterapkan oleh Bank Indonesia guna menyeimbangkan dua aspek utama makroekonomi, yaitu stabilitas harga (inflasi) dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam konteks dinamika ekonomi global yang semakin rumit, kebijakan moneter menghadapi tantangan besar untuk mengatasi volatilitas eksternal sekaligus menjaga momentum pemulihan di dalam negeri. Dengan menerapkan metode deskriptif-kuantitatif yang berbasis pada data sekunder dari periode 2020-2025, studi ini menguraikan mekanisme transmisi kebijakan moneter melalui dua jalur utama: jalur suku bunga dan jalur nilai tukar. Analisis data mengungkapkan bahwa instrumen suku bunga acuan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRRR) berperan penting sebagai anchor dalam membentuk ekspektasi inflasi di kalangan masyarakat dan pelaku pasar,
Naskah Masuk: 12 November 2025; Revisi: 12 Desember 2025; Diterima: 12 Januari 2026; ; Terbit: 12 Februari 2026.
DAMPAK KEBIJAKAN MONETER TERHADAP STABILITAS
DAN PERTUMBUHAN EKONOMI REPUBLIK INDONESIA :
Analisis Mekanisme Transmisi dan Resiliensi Makroekonomi
khususnya dalam mereduksi dampak global spillover pasca-pandemi COVID-19 serta tekanan geopolitik. Walau demikian, temuan empiris juga menunjukkan adanya fenomena jeda waktu yang signifikan, di mana keputusan terkait kebijakan moneter membutuhkan waktu antara 12 hingga 18 bulan untuk sepenuhnya bertransisi ke sektor riil dan berpengaruh pada keputusan investasi serta konsumsi rumah tangga. Lebih lanjut, penelitian ini menekankan bahwa ketergantungan hanya pada instrumen suku bunga tidaklah cukup untuk menghadapi tekanan inflasi yang disebabkan oleh sisi penawaran. Oleh karena itu, temuan studi merekomendasikan penguatan strategi bauran kebijakan yang memadukan instrumen moneter konvensional dengan kebijakan makroprudensial yang lebih akomodatif serta pemanfaatan sistem pembayaran digital dan Central Bank Digital Currency (CBDC). Sinergi ini dianggap sangat penting untuk meningkatkan ketahanan ekonomi nasional dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global di masa mendatang serta memastikan fungsi intermediasi perbankan tetap optimal dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Kata kunci: Kebijakan Moneter, Bank Indonesia, Inflasi, Pertumbuhan Ekonomi, Transmisi Moneter, BI-7DRRR, Bauran Kebijakan.
References
Bank Indonesia. (2024). Laporan Perekonomian Indonesia 2023: Memperkuat Resiliensi dan Kebangkitan Ekonomi Nasional. Jakarta: Departemen Komunikasi Bank Indonesia. https://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan/Pages/LPI_2023.aspx
Basri, M. C., & Hill, H. (2021). Economic Policy in Indonesia: It Is All About Institutions. Oxford Review of Economic Policy, 37(2), 312-332. https://doi.org/10.1093/oxrep/grab002
BPS (Badan Pusat Statistik). (2024). Laporan Produk Domestik Bruto Indonesia 2019-2023. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
Huda, N., & Santoso, B. (2022). Analisis Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter di Indonesia Melalui Jalur Suku Bunga dan Jalur Ekspektasi Inflasi. Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Publik, 13(1), 15-28. https://doi.org/10.22212/jekp.v13i1.2145
International Monetary Fund (IMF). (2023). Indonesia: 2023 Article IV Consultation-Press Release; Staff Report; and Statement by the Executive Director for Indonesia. Washington, D.C.: IMF Publication Services.
Juhro, S. M., & Goeltom, M. S. (2020). Monetary Policy Regime in Indonesia: Challenges and Strategy. In B. S. Nazir (Ed.), Monetary Policy in Emerging Markets. Emerald Publishing Limited.
Mishkin, F. S. (2018). The Economics of Money, Banking and Financial Markets (12th ed.). New York: Pearson Education.
Nasution, A. (2023). The Evolution of Monetary Policy in Indonesia: From Direct to Indirect Instruments. Journal of Indonesian Economic Studies, 59(1), 45-67. https://doi.org/10.1080/00074918.2023.2189041
Ningsih, S., & Huwaida, H. (2023). Dampak Kenaikan BI-7 Day Reverse Repo Rate Terhadap Penyaluran Kredit Perbankan di Indonesia. Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan, 11(2), 245- 258. https://doi.org/10.17509/jrak.v11i2.48921
Pohan, A. (2017). Kerangka Kebijakan Moneter dan Implementasinya di Indonesia. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Sarwono, H. A., & Warjiyo, P. (2021). The Nexus of Monetary Policy and Macroprudential Policy: Indonesia's Experience. Central Bank Review, 21(3), 85-95. https://doi.org/10.1016/j.cbr.2021.06.002
Siahaan, D. (2022). Analisis Jalur Nilai Tukar dalam Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter di Indonesia Periode 2015-2021. Jurnal Ekonomi Bisnis dan Kewirausahaan, 11(3), 302. https://doi.org/10.26418/jebik.v11i3.54120
Warjiyo, P., & Juhro, S. M. (2019). Central Banking Policy: Theory and Practice. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Yanuarti, T. (2021). Digitalisasi Sistem Pembayaran dan Implikasinya terhadap Kebijakan Moneter di Indonesia. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, 24(2), 189-210. https://doi.org/10.21098/bemp.v24i2.1542
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 JURNAL ILMIAH EKONOMI, MANAJEMEN, BISNIS DAN AKUNTANSI

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.










