Pengalaman Guru IPA Menilai Literasi Sains Dalam Kurikulum Merdeka: Tantangan dan Kebutuhan

Authors

  • Shanti Damayanti Universitas Negeri Semarang
  • Noening Andrijati Universitas Negeri Semarang
  • Deni Setiawan Universitas Negeri Semarang

DOI:

https://doi.org/10.61722/jipm.v4i4.2628

Keywords:

scientific literacy, assessment, science teachers, Merdeka Curriculum, phenomenology.

Abstract

Literasi sains merupakan salah satu kompetensi penting yang perlu dikembangkan melalui implementasi Kurikulum Merdeka. Namun, kompleksitas literasi sains menuntut guru untuk menggunakan asesmen yang mampu mengukur kemampuan peserta didik secara autentik dan kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman guru IPA dalam menilai literasi sains pada implementasi Kurikulum Merdeka, termasuk praktik penilaian yang dilakukan, tantangan yang dihadapi, serta kebutuhan guru dalam mengembangkan asesmen literasi sains. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Partisipan penelitian terdiri atas tiga guru IPA SMP yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memaknai literasi sains sebagai kemampuan peserta didik dalam menerapkan konsep-konsep sains untuk menjelaskan fenomena, mengambil keputusan berdasarkan bukti, dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Praktik penilaian yang digunakan meliputi tes tertulis, praktikum, proyek, presentasi, dan pembelajaran berbasis masalah. Meskipun demikian, guru masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan waktu, keragaman karakteristik siswa, serta kesulitan dalam menyusun instrumen dan rubrik penilaian yang mampu mengukur literasi sains secara komprehensif. Penelitian ini juga menemukan bahwa guru membutuhkan pelatihan, contoh instrumen, dan panduan pengembangan asesmen autentik yang sesuai dengan karakteristik peserta didik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penilaian literasi sains pada implementasi Kurikulum Merdeka telah mulai diterapkan melalui berbagai bentuk asesmen autentik, tetapi masih memerlukan dukungan yang lebih sistematis untuk meningkatkan kualitas pelaksanaannya. Temuan penelitian diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan asesmen literasi sains yang lebih kontekstual dan efektif di sekolah.

References

Amalia, E., et al. (2025). Problematika Guru dalam Pembelajaran IPA pada Kurikulum Merdeka. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar.

Penelitian tentang kesulitan asesmen Kurikulum Merdeka (Sintang, 2024).

Braun, V., & Clarke, V. (2006). Using thematic analysis in psychology. Qualitative Research in Psychology, 3(2), 77–101. https://doi.org/10.1191/1478088706qp063oa

Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches (4th ed.). Sage Publications.

Kemendikbudristek. (2022). Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Nomor 008/H/KR/2022 tentang capaian pembelajaran pada pendidikan anak usia dini, jenjang pendidikan dasar, dan jenjang pendidikan menengah pada Kurikulum Merdeka. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Kemendikbudristek. (2022). Panduan pembelajaran dan asesmen Kurikulum Merdeka. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Moustakas, C. (1994). Phenomenological research methods. Sage Publications.

Organisation for Economic Co-operation and Development. (2023). PISA 2022 assessment and analytical framework. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/dfe0bf9c-en

Organisation for Economic Co-operation and Development. (2023). PISA 2022 results (Volume I): The state of learning and equity in education. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/53f23881-en

Organisation for Economic Co-operation and Development. (2023). PISA 2022 results: Factsheets Indonesia. OECD Publishing.

Sjöström, J., & Eilks, I. (2018). Reconsidering different visions of scientific literacy and science education based on the concept of Bildung. Cogent Education, 5 (1), 1–15. https://doi.org/10.1080/2331186X.2018.1453211

Yore, L. D., Pimm, D., & Tuan, H. L. (2007). The literacy component of mathematical and scientific literacy. International Journal of Science and Mathematics Education, 5 (4), 559–589. https://doi.org/10.1007/s10763-007-9089-4

Bybee, R. W. (2013). The case for STEM education: Challenges and opportunities . NSTA Press.

Ardiansyah, R., & Nurhayati, S. (2024). Implementasi asesmen autentik dalam Kurikulum Merdeka pada pembelajaran IPA. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 13 (2), 215–226.

Hikmah, N., Sudarmin, S., & Widiyatmoko, A. (2025). Trends in ethnoscience-based science learning and scientific literacy: A systematic review. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 14 (1), 1–15.

Atmojo, S. E., Anggriani, M. D., Rahmawati, R. D., Skotnicka, M., Wardana, A. K., & Anindya, A. P. (2025). Bridging STEM and culture: The role of ethnoscience in developing critical thinking and scientific literacy. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 14 (2), 251–266.

arjono, A., Gunada, I. W., & Sutrio. (2025). The effect of inquiry-based ethnoscience learning on students’ critical thinking and scientific literacy. Journal of Science Education Research, 18 (1), 44–58.

Jufrida, J., Kurniawan, D. A., & Astalini, A. (2025). Artificial intelligence-assisted ethnoscience learning and its impact on scientific literacy and reasoning skills. International Journal of Instruction, 18 (2), 115–132.

Wardana, M. D. K. (2024). Classroom teachers’ problems and strategies in implementing the Merdeka Curriculum. Academia Open, 10 , 1–12. https://doi.org/10.21070/acopen.10.2024.9399

Downloads

Published

2026-07-03

How to Cite

Damayanti, S., Andrijati, N., & Setiawan, D. (2026). Pengalaman Guru IPA Menilai Literasi Sains Dalam Kurikulum Merdeka: Tantangan dan Kebutuhan. JURNAL ILMIAH PENELITIAN MAHASISWA, 4(4), 460–470. https://doi.org/10.61722/jipm.v4i4.2628

Issue

Section

##section.default.title##